INFO PARISADHA

HASILSURVEY LKPP TERKAIT PARISADA

Parisada Hindu Dharma Indonesia (Parisada) sebagai majelis agama tertinggi, memegang peranan strategis untuk pembinaan dan pengembangan umat Hindu di Indonesia. Pada tanggal 24 Oktober 2011, Parisada akan melaksanakan Mahasabha di Bali yang akan membahas tentang penetapan dan atau perubahan AD/ART, menetapkan program kerja, meminta pertanggungjawaban pengurus, memilih dan menetapkan pengurus Parisada Pusat masa bakti 2011-2016, serta menetapkan keputusan dan kebijakan yang dianggap perlu bagi umat Hindu Indonesia. Mahasabha kali ini, tentu merupakan momentum yang baik untuk bersama-sama memulai sesuatu yang positif bagi kemajuan Parisada.
Lembaga Kajian dan Penelitian Peradah (LKPP) sebagai suatu lembaga kajian dan penelitian independen melakukan survey untuk melihat persepsi umat Hindu di Indonesia mengenai Parisada secara keseluruhan. Kajian dan survey ini bertujuan (1) untuk mengetahui sejauh mana umat Hindu di indonesia memahami dan mengenal Parisada, (2) sejauh mana umat merasakan peranan Parisada (3) mengetahui harapan umat Hindu terhadap Parisada ke depan. Diharapkan hasil survey ini dapat menjadi acuan dan langkah awal untuk mendukung Parisada dalam pembinaan dan pengembangan umat Hindu di Indonesia ke depan.
LKPP telah melaksanakan survey mulai tanggal 25 Agustus sampai 7 September 2011 lalu. Kerangka sampling meliputi wilayah-wilayah yang merupakan kantong – kantong umat Hindu di Indonesia, antara lain: Jabodetabek, Jawa Barat, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Banten dan Maluku. Sebanyak 502 responden berpartisipasi dalam survey ini, dari berbagai latar belakang, mulai mahasiswa, PNS, petani, militer, budayawan, akademisi, wiraswasta, profesional hingga pensiunan.
Metode pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara yaitu melalui pengumpulan data ke lapangan, pengumpulan data via telepon dan via email. Pengumpulan data ke lapangan dilakukan secara simple random sampling dengan pemilihan titik-titik daerah sample secara convinient sampling dengan pertimbangan titik-titik daerah sampel tersebut merupakan basis atau kantong-kantong umat Hindu. Kerangka sampling  juga ditentukan dari beberapa daerah yang merupakan basis atau kantong-kantong umat Hindu. Dipilih daerah yang merupakan kantong-kantong umat Hindu karena dianggap cukup representatif mewakili umat Hindu. Margin Error dari penelitian ini adalah 4.46%.
Survey dilakukan dengan memberikan kuesioner yang berisi 7 pertanyaan, yang meliputi : keberadaan dan pemahaman umat terhadap Parisada, peran Parisada yang dirasakan oleh umat, harapan akan program – program yang perlu menjadi prioritas serta kriteria utama yang diharapkan dari sosok pemimpin Paisada yang akan datang. Kuesioner juga memberikan ruang bagi responden untuk memberikan usulan nama untuk menjadi pemimpin di kepengurusan harian Parisada Pusat masa bakti 2011-2016.
Hasil Survey
1. Apakah saudara mengenal dan memahami apa itu Parisada Hindu Dharma Indonesia?
2. Berbentuk apakah organisasi  Parisada Hindu Dharma Indonesia
3. Organ apa saja yang ada di lembaga Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat?
4. Apakah Parisada Hindu Dharma Indonesia sudah memberikan manfaat bagi umat Hindu?
5. Program kerja nyata apa saja yang seharusnya menjadi prioritas Parisada Hindu Dharma Indonesia?
6. Bulan Oktober 2011 akan dilaksanakan Mahasabha Parisada, Kriteria yang paling utama seperti apa yang diharapkan oleh Bapak/Ibu/saudara  dalam menjadi pemimpin di kepengurusan harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat?
7. Siapakah tokoh nasional umat Hindu pilihan Bapak/Ibu/saudara  berdasarkan jawaban nomor 6 untuk menjadi pemimpin di kepengurusan harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat?
Tidak tahu                              =>   65.3%
I Nengah Dana                      =>   7.4%
Sang Nyoman Suwisma    =>   2.0%
Gede Prama                           =>   1.8%
Erlangga Mantik                  =>   1.8%
Putra Astaman                    =>   1.6%
Lainnya                                  =>   20.1%
Penjelasan Hasil Survey
Berdasarkan hasil survey, Parisada sudah dikenal oleh hampir mayoritas responden. Sebanyak 95,4% persen mengenal Parisada, hanya 4,6 persen yang menjawab tidak kenal Parisada. Sayangnya, dari mayoritas yang kenal Parisada, hanya sedikit yang menjawab memahami organisasi ini, responden sebagian besar memiliki pemahaan minim akan Parisada.
Responden yang memahami bahwa Parisada adalah organisasi majelis mencapai 60% dari total responden, sisanya mengenal Parisada sebagai ormas, forum kerukunan umat beragama dan LSM. Sekitar 8% responden tidak mengetahui bentuk dari organisasi Parisada.
Ketika responden disuguhkan dengan pertanyaan yang lebih mendetail mengenai tubuh organisasi, hanya sekitar 28% yang mengetahui bahwa di dalam struktur organisasi Parisada Pusat terdiri dari Sabha Pandita, Sabha Walaka dan Pengurus Harian. Pertanyaan ini menguatkan interpretasi bahwa Parisada dikenal tetapi belum dipahami oleh sebagian besar responden.
Kebermanfaatan Parisada dinyatakan cukup terasa oleh sekitar 45% responden, 17 persen responden bahkan menyatakan sangat terasa. Sebanyak 32% responden masih sedikit dan belum merasakan manfaat kehadiran Parisada. Penyuluhan atau siar agama menjadi program yang diharapkan oleh mayoritas responden untuk diperkuat oleh Parisada kedepan, disamping itu komunikasi dengan lembaga lain juga diharapkan oleh 32% dari responden.
Terhadap pertanyaan mengenai kriteria utama bagi pemimpin pengurus harian Parisada Pusat, 47% responden menjawab pemahaman agama sebagai hal pertama. Pengalaman dalam kepemimpinan level nasional menjadi prioritas utama bagi 32% responden. Kekuatan logistik dan financial yang secara informal dijadikan satu catatan penting bagi ketua Parisada Pusat ternyata hanya dijadikan prioritas pertama oleh sekitar 8 persen responden.
Dalam survey ini, LKPP juga menjaring figur yang dianggap layak untuk menjadi ketua pengurus harian Parisada Pusat. Responden dipersilahkan secara bebas menuliskan nama yang mereka anggap layak menjadi pemimpin Parisada. Sebanyak 55 nama dituliskan oleh responden. Figur Nengah Dana paling banyak dikenal dan diajukan oleh responden, disusul oleh Sang Nyoman Suwisma, Erlangga Mantik, Gede Prama dan Putra Astaman.
Banyak hal – hal yang menarik dialami oleh tim LKPP saat menjalankan survey ini. Salah satunya saat interaksi dengan responden, baik secara langsung maupun melalui telepon dan e-mail. Interaksi ini ternyata juga dimanfaatkan oleh umat untuk menyampaikan curahan hatinya. Hal ini menunjukkan betapa besar kepedulian umat akan keberadaan dan kemajuan Parisada di masa yang akan datang. Selain itu, akses informasi dari dan kepada Parisada juga penting untuk mewujudkan kedekatan lembaga ini dengan umat.
Hasil survey LKPP mengenai Parisada ini telah memberikan gambaran, bagaimana umat memandang dan meletakkan harapannya kepada Parisada. Data – data yang dihasilkan dapat memiliki interpretasi yang bermacam – macam, sesuai dengan latar belakang pembacanya. Bagaimanapun hasil interpretasi itu, semoga dapat memberikan cara pandang baru bagi kita semua, untuk turut bersama-sama memiliki Parisada dan memberikan kontribusi yang positif sesuai bidang masing – masing bagi kemajuan Hindu di Indonesia.
Selamat melaksanakan Mahasabha!

Tanggap Bencana Melalui Jaringan Vokal Point


Cok Sawitri sebagai narasumber
Bencana, adalah kata yang semakin sering kita dengar belakangan ini. Setelah Wasior, Mentawai, Merapi, kini Bromo dan Krakatau pun turut mengisi ruang kecemasan kita.
Setiap bencana, tentu memiliki dampak. Baik secara langsung bagi yang berada di lokasi, maupun sahabat dan handai taulan yang cemas di lain tempat. Semua mengalami kerugian, baik materi maupun non materi.

Fenomena yang menarik pada situasi bencana belakangan ini, bisa kita amati dari betapa besarnya perhatian dan pergerakan yang dilakukan oleh warga bangsa, baik melalui komunitas-komunitas kecil maupun organisasi yang mapan, untuk turut berpartisipasi mengatasi dampak bencana. Di luar masalah kepentingan ataupun politis, hal ini bisa dinilai sebagai perkembangan yang positif, terutama di saat pemerintah mengalami banyak kesulitan di sana-sini.

Di dalam kegairahan pergerakan itu, di manakah umat Hindu berada?

Dalam kondisi bencana, posisi yang mungkin terjadi adalah sebagai korban, atau sebagai pihak yang membantu. Dari sini bisa timbul pertanyaan lagi, seperti.

Bagaimana jika umat Hindu menjadi korban bencana?
Bagaimana jika umat Hindu ingin membantu korban bencana?

Atau

Bagaimana jika umat Hindu ingin membantu umat Hindu lain yang menjadi korban bencana?

Diskusi ini ingin memunculkan tinjauan dari beberapa sisi terkait bencana, antara lain :
Kondisi riil umat Hindu, baik secara data statistik yang kurang valid, maupun cara pandang lokal terhadap bencana yang terjadi di daerahnya.
Budaya, di mana kesan kurang perhatian terhadap sesama umat Hindu masih terlihat sementara kita masih menepuk dada sebagai pemilik kata ‘gotong royong’.
Sistem tanggap bencana yang belum terakomodasi dalam prosedur maupun program keorganisasian Hindu, menyebabkan kita sering gagap tatkala bencana hadir.
Potensi seluruh komponen umat yang belum terpetakan dan tersinergikan.

Peradah Indonesia, melihat perlunya suatu sistem tanggap bencana yang bisa mensinergikan semua komponen dan berperan di setiap ranah penanggulangan bencana. Baik tindakan penyelamatan di lokasi bencana, maupun upaya-upaya pendukung yang dilakukan di luar lokasi. Dengan ruang partisipasi yang luas bagi komponen dari berbagai ranah yang berbeda.

Arus Balik Demokrasi


Narasumber: Bima Arya Sugiarto
2009 memberikan harapan baru bagi proses demokrasi di Indonesia. Harapan ini bisa dilihat dari adanya pemilihan umum legislatif yang disusul dengan pemilihan umum presiden. Banyak kalangan kemudian menyebut tahun 2009 ini sebagai tahun politik dimana akan banyak terjadi perubahan baik proses demokrasi maupun kepemimpinan nasional.
Pesta demokrasi ini diharapkan melahirkan output yang lebih baik lagi dari sekarang yaitu adanya pendidikan politik dan kepemimpinan nasional yang lebih baik. Untuk mencapai kepemimpinan yang berkualitas ini tentu diharapkan adanya sebuah proses pendidikan politik yang baik pula bagi warga negara. Pentingnya pendidikan politik ini akan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan proses demokrasi yang sedang kita jalankan.
Dalam proses demokrasi yang saat ini  dibangun, kita tidak bisa lepas dari mekanisme dan infrastruktur politik. Salah satu yang memiliki peran adalah partai politik (parpol) yang saat ini menjalankan pendidikan politik baik langsung maupun tidak langsung bagi warga negara.

Dalam UU No. 2 tahun 2008 tentang partai politik dijelaskan bahwa pendidikan politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban, dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dari definisi tersebut, bisa ditangkap adanya korelasi yang sangat erat antara pemegang kebijakan seperti partai politik, pemerintah, legislatif dengan warga negara sebagai konstituennya.  Untuk itu pendidikan politik yang baik bagi warga negara menuju kepemimpinan nasional dan proses demokrasi yang menyadarkan warga negara sangat diperlukan.
Kepemimpinan Nasional
Salah satu tujuan dari partai politik adalah untuk mencapai kekuasaan yang kemudian dijabarkan dalam pelaksanaan program untuk memberikan kesejahteraan bagi warga negara. Begitu pentingnya momen politik bagi keberlangsungan proses bernegara dan berbangsa. Dalam Santi Parwal LXIII, dijelaskan manakala politik telah sirna, veda pun sirna pula, semua aturan hidup hilang musnah, semua kewajiban manusia terabaikan. Pada politiklah semua berlindung. Pada politiklah semua awal tindakan diwujudkan,  pada politiklah semua pengetahuan dipersatukan, pada politiklah semua dunia terpusatkan.
Begitu pentingnya peran politik sehingga kepemimpinan harus tepat dalam mengambil kebijakan. Dalam Hindu, setidaknya ada delapan acuan yang patut dikuasai dalam kepemimpinan. Delapan ajaran tersebut dikenal dengan asta brata, yaitu:
1.Indra Brata
Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya.
2.Yama Brata
Pemimpin hendaknya berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat.
3.Surya Brata
Pemimpin hendaknya mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi.
4.Candra Brata
Pemimpin hendaknya mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan.
5.Vayu Brata (maruta)
Pemimpin hendaknya senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah.
6.Bhumi (Danada)
Pemimpin hendaknya menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya.
7.Varuna Brata
Pemimpin hendaknya memiliki wawasan yang luas.
8.Agni Brata
Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.
Itulah yang patut menjadi pegangan dalam kepemimpinan.
Pertanyaan selanjutnya adalah:
1.Bagaimana partisipasi partai politik dalam menjalankan fungsinya dalam pendidikan politik ?
2.Bagaimana pendidikan politik itu seharusnya dilakukan ?
3.Seperti apa kepemimpinan nasional kedepan ?

Langkah Antisipasi Krisis Ekonomi 2009


Narasumber : Wayan Alit Antara
(TOR Hindu Youth Leadership Forum for Economic)
Krisis keuangan di Amerika akibat KPR berkualitas rendah (subprime mortgage) telah menyeret  ekonomi Amerika dan hampir seluruh dunia ke dalam resesi. Krisis ekonomi tersebut meluas ke Eropa dan juga berpengaruh ke Asia, termasuk Indonesia. Besaran kerugian yang timbul akibat subprime mortgage ini pun tidak bisa diprediksi dan dihitung dari awal. Satu demi satu perusahaan melaporkan kerugian atas investasi mereka di instrumen berbasis subprime mortgage. Akibatnya banyak perusahaan di Amerika maupun Eropa yang memerlukan bantuan likuiditas dan bahkan beberapa di antaranya menyatakan diri bangkrut. Yang paling fenomenal adalah bangkrutnya perusahaan investasi terbesar Lehman Brothers yang usianya telah mencapai 150 tahun.
Menghadapi krisis ini, Amerika dan negara-negara besar lainnya telah melakukan intervensi besar-besaran dalam bentuk bantuan likuiditas, menyuntikkan modal, penurunan suku bunga, dan pengambil alihan bank yang bermasalah. Langkah ini pun masih belum mencukupi sebagaimana yang terlihat dari terus melemahnya indeks pasar modal di AS, Eropa, dan Asia.
Krisis keuangan secara otomatis telah memperketat likuiditas keuangan dunia. Kondisi ini telah  menyebabkan tertundanya berbagai rencana pelaksanaan proyek di berbagai sektor riil. Rencana ekspansi berbagai korporasi besar dunia dijadualkan ulang. Bahkan proyek-proyek yang sedang berjalan mesti  berhenti karena seretnya likuiditas. Permintaan untuk bangkrut dari 3 raksasa otomotif dunia termasuk General Motor merupakan sinyalemen kuat akan parahnya krisis ekonomi Amerika dan dunia. PHK besar-besaran telah terjadi dan akan terus menghantui para pekerja di berbagai sektor. Mulai dari sektor keuangan yang terus bergulir ke sektor manufaktur dan sektor lainnya.

Ekonomi Indonesia, Tidak Decoupling Lagi
Pada awal terjadinya krisis di Amerika, banyak ekonom yang menyatakan pengaruh krisis hanya akan terjadi pada Amerika dan beberapa negara Eropa yang memang memiliki exposure atau kepemilikan atas instrumen berbasis subprime mortgage.  Asia, termasuk Indonesia, diperkirakan mengalami decoupling atau ketidakterkaitan ekonomi atas apa yang terjadi di Amerika. Selain itu ekspor Indonesia yang terbilang cukup kecil ke Amerika, hanya 3% dari total GDP, memperkuat argumentasi bahwa ekonomi Indonesia tidak akan terguncang. Namun ternyata karena besaran krisis yang ditimbulkan begitu besar dan waktu untuk pemulihannya diperkirakan akan lama, maka mau tidak mau Indonesia pun terseret dalam krisis. Sekali lagi ungkapan yang mengatakan ‘jika Amerika bersin, maka Asia jatuh sakit’ terbukti kembali.
Pengaruh krisis global yang dialami Indonesia sangat terasa pada pasar modal yang indeksnya mengalami penurunan hingga 55% sejak awal tahun (hingga November 2008). Dengan keluarnya pemodal asing dari pasar modal Indonesia, nilai rupiah pun mengalami pelemahan sekitar 20-an persen sejak awal tahun dan melampaui batas psikologis Rp 10.000.  Hal ini juga diperparah oleh turunnya harga komoditas dunia yang merupakan ekspor utama Indonesia, seperti CPO dan batu bara. Demikian pula, banyak investasi yang bahkan sudah disepakati akan mengalami penundaan.
Sektor finansial mulai menandai krisis dengan melakukan pemangkasan pekerja, terutama terjadi pada beberapa perusahaan sekuritas. Selama mengalami rally atau kenaikan indeks selama 7 tahun berturut-turut diawali dari tahun 2001, banyak perusahaan sekuritas dan perusahaan investasi yang melakukan ekspansi. Namun, mereka pula lah yang akhirnya mengawali arus pemangkasan pekerja setelah indeks jatuh dengan besaran lebih parah dibandingkan krisis 1997-1998 lalu.
Di sektor perbankan pun, pengetatan likuiditas telah terjadi. Kekhawatiran akan naiknya NPL (Non Performing Loan atau kredit macet) mulai merebak. Akibatnya bank-bank mulai sangat selektif memberikan pinjaman kredit kepada dunia usaha. Pada akhirnya aktivitas sektor riil pun akan terhambat karena susahnya pembiayaan yang mereka hadapi.
Tahun 2009 Dipastikan Akan Lebih Menantang
Mempertimbangkan semua fakta yang terjadi, banyak ekonom melakukan revisi ulang atas proyeksi pertumbuhan di tahun 2009. Bahkan pemerintah dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa ekonomi Indonesia mungkin bisa tumbuh dalam rentang 4-5% saja di 2009. Artinya Indonesia akan mengalami perlambatan pertumbuhan dari besaran 6% tahun ini dan tahun lalu. Ini pun terjadi dengan asumsi konsumsi, investasi, dan ekspor yang akan melemah di tahun 2009.
Indonesia dan beberapa negara Asia sempat mengalami krisis ekonomi di 1997-1998 dengan pusat krisis waktu itu adalah Asia. Banyak pil pahit yang harus ditelan saat itu untuk menyembuhkan diri, misalnya penutupan banyak bank serta pemangkasan pekerja. Sektor riil pun terkena imbasnya terutama karena nilai mata uang yang melemah sangat tajam. Namun semua proses tersebut harus dilewati untuk mendapatkan the better shape of economy atau tatanan ekonomi yang lebih efisien. Selain itu, krisis ekonomi memunculkan banyak wirausahawan (entrepenuer) yang bisa bertahan dan sukses di tengah krisis.
Kembali lagi krisis ekonomi harus dihadapi tahun 2008 dan dipastikan akan berlanjut di 2009. Bedanya, saat ini pusat krisis langsung terjadi Amerika, yang adalah penggerak utama ekonomi dunia.
Para pelaku ekonomi bertanya-tanya, apakah situasi saat ini sudah merupakan situasi terparah ataukah masih akan ada krisis yang lebih parah lagi. “Where is the bottom?”  adalah pertanyaan paling valid yang ada saat ini.
Terhadap krisis dipenghujung tahun ini, pertanyaan mendasar yang berkembang adalah :
• Bagaimanakah kondisi ekonomi dunia di tahun 2009?
• Bagaimana peta kondisi sektor finansial dan sektor riil di tahun 2009?
• Bagaimana pelaku ekonomi bisa bertahan di tahun 2009?
• Separah apakah krisis ini akan mempengaruhi sektor riil Indonesia di tahun 2009?
• Apakah yang harus disiapkan dalam menghadapi krisis?
• Apakah sektor bisnis yang aman dari badai krisis?
Krisis Global dan Tantangan Menuju Kemandirian Ekonomi Umat Hindu
Sudah sejak lama, umat Hindu memimpikan terwujudnya kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi yang dimaksud adalah makin tingginya rata-rata tingkat ekonomi umat, makin meningkatnya kuantitas umat yang sejahtera serta secara organisasi keumatan memiliki sumber pendanaan yang kuat dan berkelanjutan. Sejalan dengan konsep tujuan Hindu, Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma. Kesejahteraan dunia harus dicapai agar terjadi keseimbangan hidup dan mengentaskan kemiskinan umat Hindu. Untuk itu meringankan beban sesama yang masih tergolong miskin adalah suatu kewajiban mulia.
Sejak tahun 2006, Parisada memantapkan komitmen pemberdayaan ekonomi umat Hindu melalui pembentukan Badan Dharma Dana Nasional (BDDN). BDDN diharapkan menjadi motor bagi suksesnya pemberdayaan ekonomi umat Hindu. Ditegah krisis ekonomi ini, Bagaimanakah perspektif BDDN terhadap kondisi ekonomi Indonesia 2009? Apakah upaya-upaya mewujudkan kemandirian ekonomi umat yang diupayakan tetap dalam koridor yang telah digariskan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar